Kamis, 27 April 2017

Inspirasi Bisnis Islam




Oleh: Ustadz Wira Mandiri Bachrun
Cukup menarik artikel yang diposting di laman FB Life in Saudi Arabia Kamis kemarin (16/03). Artikel itu menceritakan bagaimana gambaran persaingan bisnis di Saudi Arabia, negeri yang belakangan ini jadi perhatian kita sejak kunjungan Raja Salman.
Dikisahkan bahwa ada seorang manager berkebangsaan Inggris dikontrak oleh Bin Dawood (salah satu departemen store terkemuka di Saudi Arabia) sebagai regional manager untuk cabang mereka di Makkah. Manager ini sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Berpengalaman sebagai manager pusat perbelanjaan di U.K, Malaysia dan China.
Setelah tinggal dan bekerja beberapa lama di Saudi, dia kemudian menceritakan betapa aneh, unik dan inspiratif sekali bagaimana orang menjalankan bisnis di Saudi. Ini beberapa contoh yang dia berikan:
Kisah pertama…
Di Makkah, di seberang Bin Dawood Superstore ada perusahaan yang juga membangun sebuah megastore. Hanya beberapa meter saja jaraknya dari Bin Dawood. Manajer baru ini merasa gelisah, “Kenapa sih mereka tidak buka di tempat yang lain?”
Pemilik Bin Dawood mengerutkan wajahnya, tanda dia tidak suka dengan perkataan tersebut.
Apa yang kemudian dia lakukan?
Dia lantas mengirimkan sebagian karyawan Bin Dawood ke pusat perbelanjaan yang baru berbenah tadi, mengirimkan makanan dan teh serta menawarkan bantuan apa yang mereka butuhkan!
Manajer dari Inggris tadi terheran-heran melihat reaksi dari pemilik Bin Dawood.
Owner Bin Dawood tadi kemudian mengatakan, “Rezeki kita itu sudah ditentukan. Mereka tidak akan bisa mengambilnya walaupun hanya satu riyal kalau memang sudah ditakdirkan itu milik kita. Jadi mengapa kita tidak coba cari pahala dan membantu mereka?”
Banyak orang yang tidak memahami konsep sederhana ini, bahwa rezeki kita itu sudah fix, sudah ditetapkan. Tak perlulah merasa gelisah dengan adanya persaingan dalam bisnis.
Kisah kedua berkenaan dengan owner dari peternakan ayam Fakieh. Fakieh Poultry Farms adalah peternakan ayam terbesar kedua di Saudi Arabia setelah Al Watania sebagai peternakan terbesar pertama.
Di tahun 2014 Fakieh Poultry memproduksi 500.000 ayam broiler setiap harinya. Perusahaan ini telah mengoperasikan lebih dari 200 peternakan ayam yang tersebar di seluruh wilayah Saudi Arabia.
Suatu saat, saingan terbesar Fakieh Poultry yaitu Al Watania terlilit hutang sebesar lebih dari satu juta riyal. Kalau tidak dibayarkan mungkin bisa beresiko bagi bisnis mereka. Aset bisa disita.
Apa yang dilakukan oleh pemillik Fakieh Poultry?
Dia mengirim cek sebagai bantuan bagi perusahan Al Watania untuk membayar hutangnya sambil berpesan,
“Bayar hutang-hutangmu sekarang, dan kembalikan kepadaku kapan saja kalau kamu sudah bisa mengembalikannya.”
Fakieh Poultry punya peluang untuk menyingkirkan saingannya dan menjadi yang nomor satu. Tapi sebaliknya, dia malah menolong saingan bisnisnya yang sedang kesulitan.
Ini adalah gambaran bisnis di Saudi Arabia. Di mana bisnis dijalankan dengan hati yang sadar bahwa rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tak perlu takut rezeki kita ada yang merebut, atau bahkan sampai melakukan trik-trik kotor dan sabotase untuk menjatuhkan saingan kita.
Semoga yang sedikit ini bisa menginspirasi para pelaku bisnis di negeri kita.


Read more http://pengusahamuslim.com/5835-mengintip-persaingan-bisnis-di-saudi-arabia.html

Kamis, 09 Maret 2017

Barokah di Pagi Hari

Barokah di Pagi Hari
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Di Tanah Arab, kami sering memperhatikan jarang toko yang buka pada pagi hari, sekitar jam 7 pagi. Karena kebanyakan toko di sana buka sampai larut malam. Padahal sebagian warga ada yang mencari kebutuhan di pagi hari. Semisal sarapan, sayuran dan lauk lainnya. Yang perlu diingat, berdagang di pagi hari sungguh penuh barokah (berkah) sebagaimana dibuktikan dalam kisah sahabat mulia berikut.
Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” Apabila mengirim peleton pasukan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya di waktu pagi. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya pada pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan dia adalah Shokhr bin Wada’ah.—HR Abu Daud No. 2606, Tirmidzi No. 1212, shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani
Empat Pelajaran Penting
Beberapa pelajaran penting bisa kita petik dari sepenggal kisah Shokr.
Pertama, perhatian pada ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menuai berkah.
Lihatlah bagaimana Shokr Al Ghomidi Radhiyallahu ‘anhu, beliau bisa meraup berkah hanya karena mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak melihat dulu, apakah sabda beliau memang benar sudah terbukti, mujarab, atau menunggu penelitian ahli akan hal itu. Sahabat mulia tersebut hanya bersikap ‘sami’na wa atho’na’, dengar dan langsung taat. Lain halnya dengan kita, ketika mendengar hadits Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam beribu pertanyaan siap dilontarkanMengesankan sikap tidak percaya. Ah, masak iya? Apa sudah sesuai penelitian dokter?
Senasib dengan sikap semacam ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seekor lalat jatuh di tempat minum salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah seluruh bagian lalat tersebut. Lalu buanglah lalat tadi. Karena di salah satu sayapnya terdapat penawar dan sayap lainnya adalah racun.”—HR Bukhari No. 5872
Banyak sikap skeptis yang dilontarkan, tujuannya untuk mengingkari hadist yang kurang logis. Orang yang benar beriman pada Allah dan Rasul-Nya, tentu merespon baik dan mentaati. Ditambah lagi penelitian terkini dari pakar menunjukkan benarnya sabda beliau ini. Dan Rasul tentu saja sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”—QS An Najm: 3-4
Kedua, waktu pagi adalah waktu penuh barokah.
Sampai-sampai para ulama menghabiskan waktu pagi tersebut untuk berdzikir dan beramal sholeh. Jika tidak berdzikir, maka aktivitas di hari itu bisa jadi kurang bersemangat. Sebagaimana hal ini dibuktikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.—Lihat Al Wabilush Shoyyib karya Ibnul Qayyim
Ketiga, barokah waktu pagi bisa dimanfaatkan dengan berpagi-pagi mencari rezeki.
Anda bisa perhatikan apa yang dibuktikan oleh Shokr bin Wada’ah. Beliau jadi kaya raya karena benar-benar memanfaatkan waktu tersebut. Anda kurang yakin? Buktikan dulu dengan dasar mengamalkan hadist ini. Ingat, bukan sebatas untuk coba-coba.
Keempat, hadits ini juga menunjukkan mustajabnya doa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jadilah waktu pagi adalah waktu penuh berkah.
Dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh At Tirmidzi (3: 305) disebutkan bahwa karena perhatian Shokr Al Ghomidi pada ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memanfaatkan waktu pagi dan mustajabnya doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang memanfaatkan waktu pagi, akhirnya Shokr—seorang pedagang—menjadi kaya raya.
Tips
Cara untuk meraup berkah di pagi hari adalah tidak begadang hingga larut malam. Jika kita memiliki toko atau warung, sebaiknya tutup lebih awal, sehingga kita bisa benar-benar memanfaatkan waktu pagi. Apalagi jika barang yang ditawarkan oleh toko atau warung tersebut dibutuhkan oleh banyak orang di pagi hari.
Selamat mencoba, dan dapatkan bonusnya.
Semoga Allah senantiasa memberkahi setiap usaha kita. Wallahu waliyyut taufiq.


Read more http://pengusahamuslim.com/5803-barokah-di-pagi-hari.html

Kamis, 02 Maret 2017

Rahasia Rezeki Allah

Rahasia Rezeki Allah, Belajar dari Anak Burung Pemakan Bangkai


BUGHATS

Disarikan dari tulilsan  Syaikh DR. Amr Khalid
Seorang ulama dari Suriah bercerita tentang do’a yang selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do’a seperti berikut ini.
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭﺯُﻗﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮﺯُﻕُ ﺍﻟﺒُﻐَﺎﺙََ
Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats.
Apakah “bughats” itu?
Dan bagaimana kisahnya?
“Bughats” adalah sejenis burung pemakan bangkai.
Sebagian dari burung pemakan bangkai ketika bertelur dan menetas, anaknya tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.
Lalu bagaimana ia makan dan minum…?
Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.
Allah menciptakan aroma tertentu yang keluar dari tubuh anak bughat tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak bughat dan ia pun memakannya.
ماشاءالله
Keadaannya terus seperti itu sampai tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri.
Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.
Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki.
… نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. (QS. Az-Zukhruf: Ayat 32)
Rezekimu akan mendatangimu di mana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:
“Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dalam qalbuku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah. Jangan sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah kecuali dengan menta’atinya.”
Jadi tidaklah pantas bagi orang-orang yang beriman berebut rezeki dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya.
Mari introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan yang kita lakukan ini sudah sesuai hukum الله atau belum. Mengetahui status hukum perbuatan dulu baru berbuat.
Itulah sikap selayaknya seorang muslim.
اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)
Oleh sebab itu wahai kaum muslim, janganlah kita takut akan kurangnya rezeki, Allah Subhanahuwata’ala sudah mengatur rezeki. Sadarilah kitalah yang sebenarnya tidak pernah puas dan qanaah (menerima) dalam mensyukuri nakmat. Perbanyaklah bersyukur dan beristiqfar agar kita disayang Allah Subhanahuwata’ala.
Selamat bekerja.
Semoga hidup kita dicukupkan oleh rezeki yang halalan thoyyiban dan dipenuhi keberkahan didalam mencari karunia Allah Subhanahuwata’ala diatas muka bumi ini.


Read more http://pengusahamuslim.com/5675-rahasia-rezeki-allah-belajar-dari-anak-burung-pemakan-bangkai.html

Jumat, 13 Mei 2016

MENDAPATKAN MODAL BISNIS



Dalam sebuah binis tentunnya memerlukan sebuah modal untuk berjalannya dan kelancaran bisnis kita. Banyak cara dalam mendapatkan modal tersebut bisa melalui metode  menabung dari hasil usaha kita,meminjama dari kolega kita,meminjam dari bank. Tidak melulu dengan ketiga cara tersebut untuk mendapatkan modal usaha namun diartikel yang lain mungkin bisa ditemukan cara-cara lain dalam mendapatkan modal usaha. Dari ketiga metode itu dapat kita jabarkan sedikit diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Menabung dari hasil pekerjaan
Metode ini mungkin diperuntukan untuk yang sudah mempunyai pekerjaan,dalam memanfaatkan hasil dari pekerjaan kita tentunya semua hasil kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, paling tidak kita sisihkan untuk menabung sebagai bekal untuk modal usaha atau untuk kebutuhan lainnya. Menurut hemat penulis metode menyisihkan sebagian hasil pekerjaan merupakan hal yang patut dicoba dan hasilnya pun sangat bermanfaat untuk kebutuhan yang akan datang. Dari segi resiko tentunya cara ini sangat minim dari resiko,selain tidak terikat dari orang pribadi mapun badan usaha keuangan. Namun disisi lain hal yang perlu kita waspadai adalah adanya kebutuhan yang tidak terduga,ini merupakan masalah yang datangnya tidak kita prediksikan namun pasti ada dikemudian hari,hal ini yang perlu diwaspadai dan perlunya dana khusus yang perlu disisihkan dari harta kita. Dari segi nominal berapa sebaiknya yang perlu disihkan dari hasil pekerjaan kita?
Tentunya hal ini sangat diperlukan,dari segi matematika misalkan pendapatan kita adalah 100,kita bagi tiga dari sertus nanti akan ketemu angka 33,3 % . persentase tersebut kita peruntukan untuk memenuhi kebutuhan kita sehari hari dan juga kebutuhan social kita,baik untuk sedekah mauapun untuk kegiatan soasial lainnya, dan 33,3% yang lain mgkin kita bisa peruntukan untuk kebutuhann investasi maupun sebagai modal usaha. Persentase diatas adalah memperkirakan saja,namun jika pembaca memiliki hitung-hitungan yang lain tidaklah mengapa,penulis hanya sharing pengalaman.

2.      Meminjam dana dari kolega
Meminjaman dana dari kolega kita tentunya sangat diperlukan mengingat kita sebagai makhluk social pasti membutuhkan bantuan dari orang lain. Meminjamn dari kolega atau teman atau dapat dikatakan sebagai sahabat karib tentunya kita harus meiliki sebuah antisipasi dalam melakukan pinjaman,baik berupa bukti perjanjian atau akad yang dibuat antara kita dan kolega kita,seberapa lama kita mengenal teman kita,dan syarat-syarat lain yang diperjanjikan dengan teman kita,dalam hal ini perlu kita perhatikan secara seksama agar tidak menjadi masalah yang dapat merusak hubungan silaturahmi. Tentunya ini dapat merusak citra kita didalam dunia pergulan sehari-hari.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah saat meminjam dari kolega kita adalah tidak 100% semua modal usaha yang diperlukan dari hasil meminjam ini paling tidak 30 % -nya saja,hal ini untuk mengantisipasi jika kita tidak dapat melunasi pinjaman kita,selain itu sebelum meminjam kita petakan atau uraikan seberapa mampu kita melunasi pinjaman kita tersebut,tidak serta merta langsung meminjam tetapi harus ada perhitungan kita seberapa mampu kita dapat melunasi pinjaman kita tersebut. Kita juga perlu menyisihkan sedikit dari pendapatan kita untuk menabah dari kekurangan modal kita,jadi tidak 100% kita meminjam dari kolega atau sahabat kita
3.      Meminjam dari lembaga keuangan atau bank
Meminjam dari lembaga keuangan tentunya memliliki banyak resiko dan harus biasanya lembaga keuangan tersebut meminta jaminan dari akadnya. Meminjam dari lembaga keuangan tidak disarankan mengingat banyak syarat dan ketentuan yang diberikan. Kita memerlukan perhitungan yang benar benar matang untuk memnjaman dari lembaga keuangan atau bank tersebut.Dari hemat penulis dari ketiga cara diatas tentunya bajyak alternative lain yang bisa digunakan untuk mendapatkan modal dalam membuat suatau usaha. Meminjam dari lembaga keuangan ini sangat tidak kami sarankan namun semua itu kembali kepada masing-masing kita semua,bukan bermaksud untuk menghalang halangi seseorang untuk bertransaksi dengan lembaga keuangan.
Demikian uraian sedikit bagaimana cara kita mendapatkan modal usaha,semoga urain diatas dapat mendorong spirit kita untuk lebih bersemangat memnjadi seorangan pengusaha.

Selasa, 10 Mei 2016

Dzikir Tidak Hanya Lisan

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Membalas setiap kebaikan, menjadikan kita orang-orang yang istiqomah dalam beramal sholeh. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Saudaraku, yang paling utama dari dzikir itu adalah ingat kepada Alloh Swt. sejak dari niat kita di dalam hati. Sehingga dzikir adalah agar niat kita lurus hanya mengharap ridho Alloh Swt.
Alloh Swt. berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadat (kurban) ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh)”. (QS. Al An’am [6] : 162-163)
Jadi, dzikir itu tidak hanya diucapkan, dilantunkan berulang-ulang secara lisan saja, tapi juga harus dimulai sejak getaran hati sehingga membuat niat kita senantiasa lurus lillaahita’ala. Karena Alloh tidak akan menerima amal kecuali yang niatnya karena Alloh Swt.
Dalam urusan keikhlasan dalam beramal misalnya, tidak begitu penting bahkan tidak perlulah keikhlasan itu diucapkan, “saya ikhlas kok!” Lakukan saja kebaikan dan biarkan urusan ikhlas itu menjadi kesibukan hati. Di dalam surat Al Ikhlas pun tidak ada kata atau kalimat “ikhlas”, justru isi dari surat ini meski suratnya pendek namun isinya adalah urusan yang sangat besar nan agung yaitu tauhiid.
Maka, orang yang ikhlas itu tidak lagi sibuk dengan penilaian manusia mengenai amalnya, ia hanya sibuk dengan satu hal yaitu bagaimana agar amalnya itu diterima oleh Alloh Swt.
Nah saudaraku, marilah kita senantiasa menghadirkan dzikir sejak dari hati kita, kemudian kita ucapkan dan kita hadirkan dalam amal perbuatan kita. Agar niat kita senantiasa terjaga hanya mengharap ridho Alloh Swt. Semoga setiap amal sholeh kita diterima oleh Alloh Swt. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.[]
Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.
Dikutip dari http://www.smstauhiid.com/dzikir-tidak-hanya-lisan/ jam 10:36 10-mei-2016