Selasa, 21 Januari 2020

Produktif dan Inovatif







Seorang manusia memang dituntut untuk selalu produktif dalam hidupnya, tidak boleh berpangku tangan terhadap permasalahan yang pernah dihadapi. Boleh kita bersedih dikala mendapat ujian dalam hidup ini, namun kita harus Ridho akan hal tersebut, sehingga Allah pun memberi kita pahala dan ganti yang terbaik. 
Apalagi kaitannya dalam bidang wirausaha atau berdagang, naik turunnya omset merupakan hal yang sudah biasa dialami oleh seorang pengusaha, bahkan bukan hal asing lagi jikalau mengalami turunnya omset dalam usahanya. Maka diperlukan sebuah semangat juang yang tinggi untuk mengahadapi itu semua. 
Seorang Muslim yang taat tidak akan pantang menyerah dalam mengadapi ujian, kita dituntut untuk selalu produktif dan inovatif dalam berwirausaha. 

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا  
فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ


Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut (rindu) dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (HR. Bukhari 1/133 no. 660)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa salah satu golongan orang yang akan diberikan naungan oleh Allah pada hari kiamat adalah orang yang hatinya rindu untuk kembali ke masjid. Ini merupakan isyarat bahwa orang tersebut sedang tidak berada di masjid dan dia sedang melakukan pekerjaan di luar masjid. Artinya adalah di sini Allah tidak selalu berbicara tentang orang-orang yang berada di masjid. Karena Islam adalah agama yang sempurna yang memehatikan segala aspek kehidupan. Secara normal seseorang tidak harus di masjid terus dan harus bekerja karena ada keluarga yang harus dia nafkahi. Sehingga Allah memuji orang-orang yang bekerja akan tetapi hatinya tidak lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Oleh karenanya bekerja adalah kebiasaan orang-orang salih dan juga bagi para nabi. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ


Tidaklah seseorang makan lebih baik dari makanan yang berasal dari kerjanya. Dan sesungguhnya Nabi Daud ‘alaihissalam makan dari hasil kerjanya sendiri.” (HR. Bukhari 3/57 no. 2072)
Jadi makanan yang terbaik adalah makanan yang didapatkan dari hasil jerih payah seseorang dalam bekerja, dan bukan hasil dari meminta-minta. Dan Nabi Daud ‘alaihissalam adalah orang yang makan dari hasi jerih payahnya. Ini adalah hal yang menakjubkan karena kita tahu bahwa Nabi Daud ‘alaihissalam adalah seorang nabi sekaligus seorang raja. Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Nabi Daud ‘alaihissalam pun juga bekerja. 

Dalam hadits lain dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ
Sungguh salah seorang dari kalian mengambil tali, lalu mencari kayu bakar untuk dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain baik orang tersebut memberinya atau tidak.” (HR. Bukhari 3/114)

Hadits ini benar-benar isyarat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya seseorang harus berusaha untuk kerja sendiri. Lihatlah dalam hadits ini bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa seseorang lebih baik mencari kayu bakar lalu untuk dijualnya. Mungkin bagi kita ini adalah pekerjaan rendahan atau bahkan hina, akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa hal itu lebih baik bagi seseorang meskipun pekerjaannya dipandang hina oleh kebanyakan orang daripada dia minta-minta. Ini merupakan motivasi syariat agar seseorang bisa produktif dan tidak menjadi tanggungan beban orang lain. Maka hendaknya seseorang bekerja dan memiliki penghasilan sendiri sehinga dia tidak minta-minta kepada orang lain.

Hadist diatas memberi isyarat kepada kita untuk selalu bekerja keras dan semangat dalam bekerja dari hasil jerih payah kita sendiri. Selain itu kita harus inovatif dalam memasarkan produk kita dalam berdagang jangan asal-asalan dalam berdagang, agar barang kita mempunyai nilai barang yang bernilai tinggi dan berkelas. Sehingga kita dapat memproyeksikan omset dan meminimalkan resiko yang dihadapi. 


Sumber Referensi: 

https://pengusahamuslim.com/6875-muslim-profesional-dan-kontributif.html#more-6875

 


Rabu, 24 April 2019

Pengusaha Siapa Takut??


Menjadi pengusaha memang diidam-idamkan banyak orang, selain kita dapat menagtur sendiri jenis usahanya, tempat maupun modal yang diperlukan. Ibaratnya menjadi seorang owner perusahaan yang tidak terikat dengan orang lain. Resiko dan keuntungannya pun kita sendiri yang dapat mengatur dan tentunya perjuangannya tidak lah mudah, naik turun omset pasti bakal dihadapi dan bukan keniscayaan.
Padahal Tuhan telah menerangkan bahwa rezeki itu 90% akan diberikan kepada pengusaha dan 10% kepada pegawai. Kita bisa melihat contoh sukses pengusaha di indonesia mulai dari Sandiago Uno, Ippho Santosa, Elang Gumilang, dan banyak pengusaha lainnya. Mereka tentu mengalami fase “jatuh bangun” mengejar kesuksesan. Beberapa pengusaha ada yang terlebih dahulu bekerja, tetapi karena mereka jenuh pada keadaan yang stagnan, mereka berhenti dan mulai menuju zona kebebasan.
Langkah – langkah Dari Karyawan Jadi Pengusaha
Ada langkah – langkah yang mereka tempuh agar bisa bertahan dalam fase jatuh. Berikut beberapa langkah-langkah untuk anda yang ingin bertansformasi dari karyawan jadi pengusaha
1. Persiapan mental dan niat yang benar
Ini adalah syarat paling penting untuk anda dari karyawan jadi pengusaha. Untuk keluar dari posisi karyawan saja sudah membutuhkan mental yang kuat. Karena dengan ini berarti melepas posisi dimana penghasilan menjadi pasti, pandangan positif keluarga dan teman menuju zona dimana penghasilan menjadi tidak pasti. Selain mental untuk menuju zona ketidakpastian, dibutuhkan juga mental untuk menjadi pengusaha. Dimana setiap pengusaha akan mengalami “fase jatuh bagun” yang harus dijemput selama menapaki jalan pengusaha. Di fase ini banyak pengusaha yang tidak kuat dan akhirnya menemui kebangkrutan. Mental yang kuat untuk menjadi pengusahan akan lebih ampuh bila diniatkan dengan benar. Niat untuk menjalankan semua karena ibadah. Niat untuk menjalaninya dijalan yang benar, tidak menempuh jalan yang kotor.
2. Persiapan modal
Persiapan modal menjadi syarat mutlak untuk melangkah dari karyawan jadi pengusaha. Pastikan anda memiliki modal terlebih dahulu sebelum mengajukan surat resign kepada atasan. Baik anda masih single atau sudah berkeluarga, modal tetap menjadi faktor penentu jalannya usaha. Bisa mencari investor dan bagi hasil, pinjam keluarga dan teman, dan pinjaman lunak lainnya. Bisa juga dengan menjual aset, baik itu tanah, rumah, ataupun barang2 kepemilikan pribadi. Usahakan tidak meminjam kepada rentenir karena bunga yang tinggi. Bunga yang tinggi juga bisa menyebabkan tersendatnya usaha berkembang diawal.
3. Siap bekerja lebih lama
Transformasi dari karyawan jadi pengusaha tentu saja membuat anda berusaha lagi memulai dari nol. Diawal memulai mungkin hampir seluruh waktu kita akan tersita untuk usaha. Baik itu lewat fikiran atau tindakan. Tetapi kita harus bisa me-manage waktu dengan baik. Belajar me-manage waktu adalah salah satu kunci. Bekerja lebih lama bukan berarti melupakan keluarga atau saudara. Kita juga harus bisa meluangkan waktu buat mereka.
4. Fokus dalam tujuan dan pantang menyerah
Dalam perjalan usaha kita akan sering mengalami hambatan. Baik itu sikap keluarga yang tidak proaktif ataupun lingkungan sekitar yang mencemooh. Hal ini yang sering menganggu berkembangnya usaha. Mental pun seringkali runtuh karena pendapat sekitar, apalagi saat usaha sedang jatuh. Disinilah kita harus terus bangkit dan semangat pantang menyerah. Usahakan diskusi dengan keluarga diawal usaha. Minta dukungan dari mereka. Selalu menjaga semangat dengan sharing ke sesama pengusahan terutama yang sudah berpengalaman adalah hal yang baik. Baca buku-buku motivasi bisnis para pengusaha sukses juga bisa menjadi penambah semangat. Terakhir kita harus yakin kalau rezeki kita sudah ada yang mengatur. Sehingga langkah kita menjemputnya terasa lebih ringan.

Daftar Pustaka